Saturday, May 28, 2016

Ecuador - Ama la Vida (2)

Banos – capital of adventure
Informasi tentang jadwal bus di Ecuador tidak gampang diperoleh. Saya harusnya naik bus dari Otavalo ke Quito terminal utara atau Terminal Norte Carcelen (baca: karselen) lalu naik bus lagi yang ke terminal selatan atau Terminal Quitumbe (baca: kitumbe) dan cari bus yang ke Banos. Tapi saya baca di internet ada bus dari Ibara langsung ke Banos. Ibara adalah kota di utara Otavalo, sekitar 30 menit dengan bus. Sampai di terminal bus Ibara saya baru tahu bahwa bus ke Banos hanya ada 2 kali sehari dan salah satunya berangkat jam 2 siang.
Saya tidak bisa menunggu bus yang jam 2 siang karena sampai Banos sudah gelap. Akhirnya saya naik bus yang ke Quito alias balik lagi melewati Otavalo. Sampai di Quito Terminal Norte Carcelen saya turun dan beli tiket bus untuk ke Terminal Quitumbe. Ternyata… busnya sama! Jadi bus dari Otavalo juga sampai di Terminal Quitumbe. Sopir dan kernet bus senyum-senyum melihat saya :(
Quito Terminal Quitumbe besar sekali. Mirip bandara. Berikut fotonya:


Di bus menuju Banos saya berkenalan dengan Edwin, pemuda dari Puyo suatu kota di daerah Amazon. Dia umur 21 tahun tapi sudah jadi guru SD mengajar Matematika dan IPA. Bahasa Inggrisnya bagus sekali. Rupanya dia berasal dari keluarga berada dan bisa sekolah di sekolah bagus. Kakak perempuannya sedang kuliah kedokteran di Cuba. Edwin baru sekali keluar negeri yaitu ke Cuba menjenguk kakaknya. ‘Aku iri sama kamu yang sudah ke berbagai negara’, katanya. Saya bilang: ‘Aku iri sama kamu yang bisa masuk Cuba’.
Saya sebenarnya sudah usaha untuk bisa mengunjungi Cuba. Tapi untuk mengajukan aplikasi visa di kedutaan Cuba di Jakarta saja tidak bisa. Salah satu syaratnya adalah konfirmasi akomodasi selama di Cuba. Saya email ke banyak Casa Particulares (rumah penduduk yang disewakan) tapi tidak satupun yang membalas email saya. Saya telepon minta email konfirmasi dijawab ‘kami tidak bisa mengirim email karena internet sulit’. Salah satu teman memberikan kontak hotel di Havana tempat dia menginap dulu. Saya tidak menghubungi hotel tersebut. Memang tidak mau tinggal di hotel karena uang saya akan masuk ke kantong pemerintah. Beda dengan menginap di casa particulares yang uangnya bisa dinikmati pemilik rumah.
Kembali ke Edwin :) dari dia saya tahu bahwa dari Banos ke Alausi (tujuan saya berikutnya) saya harus ke Riobamba dulu. Duh… bolak-balik artinya. Saya ke Banos niatnya untuk bermalam sebelum melanjutkan ke Alausi. Tahu begini saya harusnya berhenti di Riobamba saja.
Banos adalah kota kecil yang dikelilingi pegunungan dan banyak kegiatan alam seperti trekking, rafting, bungy jumping dll yang bisa dilakukan di daerah sekitar Banos. Di pusat kota mudah dijumpai tour agent yang selain menyediakan paket adventure juga menyewakan alat camping, rafting bahkan 4×4 motor.
Turis yang saya jumpai di Banos semua berbadan fit. Mereka adalah pengunjung yang memang siap menerima tantangan alam Banos. Tidak seperti saya yang hanya mampir semalam saja.
Plaza de Armas Banos

Agen tour di pusat kota Banos


Alausi – Nariz del Diablo (The Devil’s Nose Train)
Dari Banos saya naik bus ke Riobamba lalu ganti bus lain menuju Alausi. Saya lupa nama bus nya. Ketika di terminal Riobamba saya dengar orang meneriakkan Alausi. Saya langsung naik ke bus dan bayar ongkos langsung ke kernetnya. Bus ini memang melewati Alausi tapi tidak berhenti di terminalnya. Saya diturunkan di tepi Pan American Highway dan ditunjukkan arah menuju pusat kota.

pemandangan dari Pan American Highway menuju pusat kota Alausi

Alausi kotanya kecil sekali. Terminalnya saja di tengah deretan ruko. Satu hal yang terkenal dari kota ini adalah kereta yang menuju Sibambe yang disebut Nariz del Diablo atau The Devil’s Nose. Dulu kereta ini bisa dinaiki dari Riobamba tapi karena rel dari Riobamba rusak jadi kereta ini hanya melayani jalur Alausi – Sibambe.
bersiap naik kereta Nariz del Diablo


Nariz del Diablo dari berangkat dari Alausi ke Sibambe Selasa sampai Minggu jam 8 pagi, 11 pagi dan jam 2 siang. Lama perjalanan bolak balik sekitar 2,5 jam. Harga tiket bolak balik 25 USD. Kereta ini memang ditujukan untuk turis. Di stasiun Sibambe ada pertunjukan tarian tradisional, toko souvenir, cafe, dan museum. Jika suka hiking kita bisa beli tiket sekali jalan lalu kembali ke Alausi jalan kaki.

pemandangan dari kereta Nariz del Diablo

Pemandangan dari kereta Nariz del Diablo

Di Alausi ada beberapa hotel dengan harga yang cukup mahal. Saya menginap di hostel Kila Wasi yang booking nya cukup dengan email. Hostel ini lumayan jauh dari pusat kota tapi naik taxi cukup murah, hanya 1 USD saja. Harga untuk bed di kamar dorm hanya 8 USD. Saya betah di hostel itu karena pemiliknya ganteng ;) Victor namanya. Ayahnya asli Alausi tapi dia lahir di US. Dia dan anak perempuannya tinggal di rumah yang dikelilingi kebun buah dan jagung. Luna, anak Victor aktif sekali. Pulang sekolah dia memberi makan 2 anjing, ayam dan guinea pig lalu blusukan di kebun bermain dengan bebek dan kalkunnya. Saya suka ikut main di kebunnya karena bisa metik dan makan jeruk mandarin sepuasnya :)

Cuenca – is this Europe?
Dari Alausi ada bus langsung ke Cuenca (baca: kuenka). Jadwal yang ada di internet dan di Tourist Information beda dengan jadwal di terminal. Untuk bus di Ecuador saya sarankan cek langsung jadwal dan harga di terminal bus. Saya naik bus yang jam 10 pagi dan sampai di Cuenca jam 3 sore.
Di terminal bus Cuenca ada Tourist Information Center. Dari petugas judes di sana saya disarankan untuk naik bus Super Semeria jika ingin cross border ke Peru. Bus Super Semeria melayani rute Cuenca – Piura – Chiclayo berangkat tiap hari jam 10 malam. Ketika saya tanya di konter Super Semeria ternyata masih ada kursi untuk ke Chiclayo untuk malam itu. Saya juga bisa menitipkan ransel disana. Akhirnya saya putuskan untuk tidak menginap di Cuenca tapi langsung ke Peru malam itu juga.
pusat kota Cuenca


pusat kota Cuenca


Cuenca kota yang cukup besar dengan deretan bangunan kolonial di sekitar pusat kota. Wifi gratis ada di beberapa tempat, lumayan membantu bagi fakir wifi seperti saya. 5 jam saya jalan-jalan mengitari kota. Tidak terasa capai karena pemandangan yang indah.
Jam 9 malam saya kembali ke terminal. Jam 9.45 penumpang diminta menuju bus melewati gate besi yang akan dibukakan jika kita sudah membeli tiket pajak terminal sebesar 0.20 USD.
Sekitar jam 2 pagi bus berhenti di border Ecuador – Peru. Jika di border lain ada yang namanya no man’s land, di sini tidak ada. Konter imigrasi keluar Ecuador BERSEBELAHAN alias JEJER dengan konter masuk Peru. Susah membayangkannya? Anggaplah sedang antri di bank dengan meja teller 4 buah berderet. Yang 2 meja untuk keluar Ecuador dan yang 2 lagi untuk masuk Peru. Saya sebenernya juga tidak percaya tapi itulah kenyataannya. Setelah antri dan dapat cap keluar Ecuador saya tinggal mingser alias bergeser sedikit untuk antri dapat cap masuk Peru.
Setelah semua penumpang selesai dengan proses imigrasi kami melanjutkan perjalanan menuju Peru dengan bus yang sama. Dari berbagai artikel yang saya baca jika naik bus selain Super Semeria penumpang mungkin ditinggal dan harus naik bus lain.
Itulah cerita saya di Ecuador dan cross border ke Peru. Mungkin kesannya melelahkan tapi aslinya tidak. Ecuador negara yang indahhhhh sekali. Penduduknya juga ramah. Di bus menuju Peru saya berkenalan dengan seorang pemuda Ecuador yang bekerja di Peru sebagai pelatih Thai Boxing. Sayang saya lupa namanya. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan saya tidak bisa bahasa Spanyol jadi kami ngobrol dengan bahasa Tarzan. Saya harus agak menjauh ketika dia memeragakan jurus-jurus Thai Boxing nya. Saya kebetulan bawa Bath, mata uang Thailand. Saya berikan selembar kepadanya. Semoga dia bisa mewujudkan mimpinya berlatih Thai Boxing di Thailand.
bus Super Semeria Cuenca, Ecuador - Chiclayo, Peru

Ecuador - Ama la Vida (1)

Quito – Ibu kota paling tinggi di dunia
Ibu kota negara ini letaknya 2800m dari permukaan laut sehingga tercatat sebagai ibu kota paling tinggi di dunia. Karena lokasinya yang tinggi turis khususnya yang datang dengan pesawat biasanya butuh waktu beberapa hari untuk aklimatisasi atau membuat tubuh terbiasa dengan altitud tinggi yang lebih tipis kadar oksigennya.
Saya sampai di bandara Mariscal Sucre sekitar jam 19.30 dan langsung menuju Quito (baca: Kito) dengan taxi jemputan yang sudah saya pesan dari hostel sebelumnya. Bandara Mariscal Sucre letaknya tidak di Quito tapi di Tabalela. Perjalanan dari bandara ke kota Quito sekitar 1 jam baik dengan taxi ataupun bus. Dari bandara maupun di kota Quito sendiri naik kendaraan umum di malam hari tidak aman. Karena itulah saya memilih memesan taxi dari hostel sekalipun biayanya 38 USD. Mahal? Ya, untuk ukuran Ecuador karena makan 1 porsi bisa cuma 2 USD dan hostel di kamar dorm ada yang cuma 4 USD semalam.
Ecuador menggunakan mata uang US Dollar sejak tahun 2000. Bagi saya aneh rasanya tiap kali terima uang kembalian selain angka yang saya lihat adalah tulisan ‘in God we trust’. Tapi dengan dipakainya USD saya jadi lebih mudah memahami angka daripada ketika di Columbia yang mata uang Peso nya banyak nol nya.
Dua malam di Quito saya menginap di Casa Hebling Hostal rekomendasi dari teman hostel di Medellin. Harga untuk kamar dorm 6 bed adalah 12 USD. Mahal jika dibanding hostel lain yang 8 USD untuk kamar privat. Tapi enaknya di hostel ini adalah aman sekalipun lokasinya agak jauh dari pusat turis.
Tempat wisata di Quito banyak yang terletak di Kota Tua. Untuk mengitari daerah ini sebaiknya dengan jalan kaki karena sekalipun taxi dimana-mana dan murah tapi macet. Lebih leluasa dan lebih cepat mencapai suatu tempat dengan jalan kaki. Siapkan sepatu yang enak untuk jalan. Jangan pakai sepatu berhak tinggi apalagi tinggi bagian depannya ;) Jalanan di Kota Tua berupa bebatuan dan konturnya naik turun.
gereja di Old Town

Old Town

Old Town

Sebenarnya rencana saya di Quito hanyalah jalan santai sedikit dan tiduran di hostel lama-lama. Butuh istirahat banyak untuk menjelajah Ecuador bagian lain. Tapi malah dikasih tahu salah satu teman bahwa ada gunung di dekat Quito yang bisa didaki dalam sehari. Namanya Gunung Pichincha atau dalam bahasa Spanyol disebut Montana Pichincha. Ketinggian puncak gunung ini adalah 4784m dari permukaan laut. Lumayan bisa untuk latihan aklimatisasi.
Untuk menuju puncak Pichincha bisa dengan mendaki atau naik kereta gantung dari Teleferiqo. Saya lupa tepatnya kalau tidak salah harga tiket kereta gantung bolak-balik sekitar 8USD. Di Teleferiqo juga ada taman bermain tapi ya gitu deh… wahananya tidak menarik untuk saya karena kurang menantang.
pemandangan dari puncak gunung Pichincha

Cuaca di Quito tidak menentu. Pagi langit cerah udara dingin, siang panas sampai 20 derajat celcius, sore hujan, malam bisa minus suhunya. Salah satu teman sekamar bilang ‘Paling tidak bisa bergaya karena tidak tau harus pakai baju apa’. Saya sendiri tidak sempat mikir gaya lha baju yang dibawa saja cuma beberapa :)
Otavalo – The Market Town
Kota kecil yang terkenal dengan pasarnya ini terletak di sebelah utara Quito. Perjalanan Quito – Otavalo sekitar 2,5 jam dengan bus. Dari pusat kota Quito bisa naik bus gandeng (dalam kota) ke halte paling ujung yaitu Ofelia. Dari situ naik bus biasa ke Terminal Norte Carcelen lalu lanjut dengan bus antar kota ke Otavalo yang berangkat tiap 30 menit sekali. Ongkos bus ke Otavalo 2 USD ditambah pajak terminal 0,2 USD.
Plaza de Armas Otavalo

Pasar Otavalo buka tiap hari tapi di hari Sabtu hampir seluruh kota jadi pasar. Ramai sekali dan banyak jalan ditutup untuk kendaraan bermotor. Barang-barang produksi lokal yang unik murah sekali di pasar ini. Sayang saya tidak langsung pulang jadi hanya bisa gigit jari dan menahan diri untuk tidak membeli pernak-pernik.
Day trip ke Otavalo dari Quito bisa tapi jika ingin menginap banyak pilihan hotel dan hostel di kota ini. Saya sendiri memilih untuk menginap 2 malam di Otavalo karena asik. Suasana tradisionalnya terasa sekali.
pasar kerajinan tangan

pasar kerajinan tangan

pasar sayur dan buah

pasar hewan Otavalo


Tuesday, May 24, 2016

Mengintip Colombia (2) - Medellin

Saya membeli tiket pesawat Cartagena – Medellin (dibaca: Medejin) di travel agent di Kota Tua Cartagena karena kartu debit saya ditolak oleh maskapai Vivacolombia dan Avianca. Ada maskapai lain yaitu LAN tapi waktu saya cek harganya mahal. Ternyata di travel agent saya bisa membeli tiket untuk penerbangan yang transit di Bogota dengan harga yang lebih murah.

Cari yang murah tentunya ada konsekwensinya. Ransel saya nyangkut di Bogota. Petugas di bandara Medellin menyakinkan saya bahwa ransel saya akan diantar ke hostel hari itu juga. Bandara Medellin letaknya jauh dari kota Medellin. Perjalanan dari bandara ke pusat kota dengan taxi atau bus sekitar 1 jam jika lalu lintas lancar. Ongkos taxi dari bandara ke kota 60000 Peso atau sekitar 30 USD. Mehong!
Saya yang berkantong tipis memilih untuk naik bus yang hanya 8600 Peso. Untuk menuju pusat kota kita bisa turun di dekat San Diego Mall atau di Center. Saya turun di dekat San Diego Mall lalu tanya-tanya ke polisi dan tentara arah menuju ke stasiun metro (kereta) terdekat. Berbekal petunjuk dengan bahasa tubuh saya sampai di stasiun metro tanpa nyasar *bangga :)
Stasiun metro yang dekat dengan San Diego Mall namanya Exposiciones. Waktu itu sekitar jam 2 siang dan hari libur tapi metro penuh sesak dengan penumpang. saya baru bisa terangkut di kereta ke 3. Kereta baru mau jalan tiba-tiba harus berhenti karena ada keributan. Untuk menuju hostel saya harus ganti kereta di stasiun San Antonio. Makkk… antriannya mengerikan. Saya bersyukur ransel saya nyangkut di Bogota. Jika tidak saya pasti sudah menyerah dan naik taxi menuju hostel. Lagi-lagi terjadi keributan di stasiun San Antonio. Ternyata hari itu ada pertandingan sepak bola jadi suporter masing-masing tim bentrok.
Sampai di hostel saya istirahat sebentar dan jalan ke supermarket lalu kembali ke hostel dan tidak berani keluar lagi. Malamnya terdengar suara jedar jeder yang saya kira suara letusan kembang api dari stadium tempat pertandingan sepak bola. Saya masih tenang. Tidak lama suara itu terdengar lagi. Pemilik hostel tanya ke salah satu tamu yang sudah lama tinggal disitu ‘guns or fireworks?’ Nadanya bertanya seperti bercanda dan si tamu pun menanggapi dengan cengengesan. Saya masih mengira itu suara kembang api. Terdengar lagi suara jedar jeder yang ketiga kali. Saya penasaran ‘itu suara kembang api kan?’ Mereka dengan muka serius menjawab ‘bukan, itu suara tembakan. Paling lagi ada perang antar geng. Comuna 13 kan gak jauh dari sini’.
Comuna 13 dulunya adalah area paling berbahaya di Medellin. Di jaman Pablo Escobar (bos kartel narkoba terbesar) tidak ada yang berani masuk area ini kecuali anggota kartel. Sekarang (katanya) sudah jauh lebih aman dan banyak orang umum yang berani ke sana. Tapi saya tidak.
Geng masih menjadi masalah besar di Medellin. Salah satu teman hostel yang mantan anggota militer bilang ke saya kalau ditodong jangan ngomong apa-apa tapi langsung kasih apa yang mereka minta atau mereka tidak akan pikir dua kali untuk membunuh. Geng tidak pilih-pilih mau penduduk ataupun turis. Beberapa hari sebelum saya datang kabarnya ada seorang turis yang ditembak di hostelnya. Padahal hostelnya di El Poblado, area paling aman di Medellin.
Saya tidak banyak blusukan di Medellin. Tindak kriminal di Medellin terjadi juga di siang hari. Saya ikut Walking Tour dengan guide orang lokal. Selama tour itu kami diberi tahu di area mana kami harus extra waspada. Salah satunya adalah di Parque de Berrio yang merupakan taman kecil dengan patung Pedro Justo Berrio (mantan gubernur). Di tempat ini banyak penjual makanan, tukang obat dan ada juga sekelompok pemusik yang mengiringi orang-orang berdansa.
Tempat lain yang juga butuh kewaspadaan extra adalah Parque de Bolivar. Taman yang terletak di depan Cathedral Metropolitana (gereja kathedral). Ada patung Simon Bolivar ditengah taman ini. Yang menarik dari tempat ini adalah di salah satu pojok ada pos polisi dan di pojok yang lain banyak penjual marijuana dan cocaine. Sekitar jam 12 siang saya jalan di tempat ini ditawari ‘Senorita, marijuana? Coca?’.
Medellin sebenarnya sebuah kota yang cantik. Infrasrukturnya benar-benar bagus, transportasi sekelas kota-kota besar di negara maju, perpustakaan di mana-mana. Tapi sayang masih belum benar-benar lepas dari predikat kota paling berbahaya. Sekalipun saya merasa sedikit takut berada di kota ini tapi sebagai perempuan saya juga merasa aman. Perempuan bebas berbusana sesuai yang mereka mau. Kaos ketat yang bolong sana bolong sini dipadu dengan celana jeans hipster super ketat, sepatu hak tinggi dan make up menor bebas jalan kesana kemari. Saya tidak memotret perempuan berbaju ketat nanti yayank Anoew tidak bisa tidur. Gawat.
Medellin adalah satu-satunya kota di Colombia yang memiliki sistem transportasi massal metro. Bahkan ada kereta gantung yang menjangkau wilayah perbukitan. Salah satu hal yang saya sukai adalah naik kereta gantung dan melihat pemukiman penduduk di bawah. Indah dari atas tapi sebaiknya tidak didatangi.



Harga tiket sekali jalan adalah 1900 Peso dan itu bisa digunakan untuk naik metro kemanapun termasuk kereta gantung (metrocable). Ada pengecualian untuk metrocable yang menuju Parque Arvi yang merupakan salah satu tempat wisata favorit penduduk setempat. Metrocable ke Parque Arvi harganya 4600 Peso sekali jalan.


Mengintip Colombia (1) - Cartagena

Galau, kata inilah yang paling tepat menggambarkan perasaan saya ketika melihat-lihat jadwal dan harga tiket ke Colombia. Jujur saja saya tidak begitu tertarik untuk mengunjungi negara ini. Ditambah lagi dengan kondisi keamanan yang tidak menentu. Tapi karena saya punya waktu lebih untuk menjelajah Amerika Selatan jadi saya memantapkan hati untuk mengunjungi Colombia barang sebentar. Colombia memberikan bebas visa turis 90 hari untuk WNI tapi kita perlu mempersiapkan tiket keluar dari Colombia atau tiket kembali ke negara asal. Tanpa tiket tersebut pihak Airline akan menolak proses check in.
Galau seri dua, saya bingung memilih kota mana saja yang akan saya kunjungi. Setelah banyak membaca tentang Colombia, saya hanya tertarik dengan Medellin dan Armenia. Medellin karena di tahun 90an kota ini merupakan kota paling berbahaya di dunia tapi sekarang keamanan sudah membaik. Sedangkan Armenia karena namanya. Saya mungkin tidak bisa mengunjungi negara Armenia jadi ya kota bernama Armenia dulu saja saya datangi.
Setelah pusing cek jadwal dan harga tiket akhirnya saya membeli tiket ke Cartagena. Lho kok? Karena itu yang sesuai budget saya.
Cartagena – Old Town Charm
Saya tidak mencari info banyak tentang Cartagena (dibaca: Kartahena). Saya tahunya cuma kota ini terkenal dengan pantai dan night life nya. Untung salah satu teman memberi tahu saya untuk cari penginapan ‘di dalam tembok’. Tingkat kriminalitas di Cartagena masih tinggi dan wilayah yang relatif lebih aman khususnya untuk turis adalah di Kota Tua yang dikelilingi tembok seperti benteng. wilayah yang masuk area ini adalah San Diego dan El Centro. Di peta area ini terlihat luas tapi kenyataannya tidak. Tapi walaupun kecil bangunan-bangunan di area ini banyak yang unik jadi tidak akan bosan mengitari tempat ini.





Saya menginap di El Genoves Hostal di wilayah San Diego. Harga untuk dorm room (kamar ramai-ramai) per orang per malam sekitar 12 USD. Biarpun murah tapi hostel ini ada empangnya. Lumayan bisa berkubang jika kepanasan.
Bangunan di wilayah Kota Tua di bagian utara sebagian besar adalah hunian baik rumah penduduk maupun hostel dan hotel. Sedangkan di bagian selatan banyak yang digunakan untuk toko souvenir dan kantor. Juga ada supermarket, minimarket dan beberapa bank. Salah satu satpam bank memberi tahu saya untuk menarik uang di ATM yang ada di dekat bank dan pada jam kerja jadi ada penjaganya.
Selama di Cartagena saya tidak jalan jauh keluar tembok. Apalagi malam hari no no no… jangan cari perkara. Di dalam Kota Tua jalan sendiri di malam hari relatif aman. Cafe dan bar ramai sekali. Saya hanya lewat, sudah tidak terlalu tertarik untuk hura-hura.